Rabu, 16 Maret 2016

RESENSI BUKU PERBAB




Identitas Buku
1.      Judul Novel               : It’s Real Not a Dream
2.      Penulis                       : Desty Istiana Putri
3.      Kategori Buku           : Novel
4.      Penerbit                     : Syura Media Utama
5.      Tahun Terbit               : 2012
6.      Cetakan                      : Cetakan Pertama, November 2012
7.      Tebal Buku                 : 228 halaman
8.      Ukuran Buku             : 12,1 cm x 19cm


BAB 1
Identitas Bab
Judul Bab      : Bab 1
Tebal Bab      : 5 halaman

SINOPSIS:
Pada Bab 1 ini menceritakan tentang seorang remaja yang baru masuk Sekolah Menengah Atas(SMA). Gadis tersebut bernama Nawaira Adya Cintani. Pada saat MOS(Masa Orientasi Sekolah) ia memakai pita berwarna merah dan saat itu terdengar suara lantang kakak OSIS yang memanggil dirinya. Namun dirinya tak sadar dan kakak OSIS tersebut memanggil dirinya lagi. Kakak OSIS tersebut bertanya “ dari SMP mana? “ dan Nawaira pun menjawab “SMP Mrah Putih Jakarta Selatan”. Nawaira yang merasa kesal karena sikap kakak OSIS tersebut yang memanggil dirinya dengan raut wajah yang jutek. Ia dipanggil kakak OSIS tersebut karena ia memakai pita berwarna merah sedangkan siswi putri diharuskan memakai pita berwarna pink. Nawaira segaja melanggar peraturan dan dia tidak takut dihukum karena sudah melanggar peraturan yang sudah dibuat. Nawira menganggap warna pink adalah warna banci maka dari itu ia memakai pita berwarna merah karena warna merah itu berani. Hari pertama sekolah Nawaira membuat kesalahan lagi yaitu ia menyiram Kepala Sekolahnya dengan air, ia tidak tau bahwa yang disiramnya itu adalah Kepala Sekolah  ia menyangka bahwa orang yang ia siram itu adalah penjaga kantin. Tidak hanya itu Nawaira dan teman-temannya juga melakukan kegaduhan diperpustakaan sampai-sampai penjaga perpustakaan kuwalahan menangani Nawaira dan teman-temannya itu dan mereka akhirnya dibawa keruang BK.  Kasus lainnya ia menempelkan permen karet dibangku Ibu Hartinah Surtinah beliau adalah Guru Bahasa Inggris Nawaira.



Unsur Intrinsik Novel :
1. Tema                      : Pencarian Cinta dan Jati Diri
2. Latar Belakang     : lapangan sekolah, kantin sekolah, ruang kelas, perpustakaan
3. Waktu                    : Pagi Hari 
4. Suasana                 : lucu, kesal,tegang
5. Alur                        : Maju
6. Amanat                  : Peraturan dibuat untuk dipatuhi bukan untuk dilanggar.
7. Penokohan            : Nawaira : keras kepala, suka membuat masalah/kegaduhan
8. Sudut Pandang      : Menggunakan sudut pandang orang pertama



Kekurangan Novel :
Kekurangan pada novel ini yaitu bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa sehari-hari atau yang sering digunakan oleh anak remaja zaman sekarang.

 
Kelebihan Novel :
Kelebihan pada novel ini walaupun bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari yang dipakai anak remaja zaman sekarang namun bahasanya mudah dimengerti.

Kesimpulan : Kesimpulan pada bab 1 ini yaitu mengenai kenakalan yang sering dilakukan oleh seorang siswi sekolah menengah atas.

Jumat, 13 November 2015

PERBANDINGAN DIKSI





Dan pada berita diatas adalah salah satu contoh berita dengan penggunaan diksi yang baik karena mengandung ciri-ciri diksi.
Ciri-ciri diksi adalah:
1. Ketepatan
2. Kecermatan
3. Keserasian
Pada kalimat “Hujan bantu petugas padamkan kebakaran di kelapa gading” kata “bantu” sinonim dari kata “membantu”. Sedangkan diksi dalam kaidah sintaksis, pada kalimat ini pemakaian kata-katanya mudah dimengerti oleh semua kalangan yang membaca berita ini dan kalimat yang ditulis pun sangat efektif. Dan untuk diksi dalam kaidah sosial, pilihan kata-katanya dalam kalimat tersebut sudah sesuai untuk semua kalangan yang membaca masih formal, tidak terlalu baku, namun efektif.








Pada berita diatas adalah contoh berita dengan penggunaan diksi yang kurang baik karena kata yang dipakai kurang tepat seperti : bosen, rubah, aja, brou. Kalimat tersebut tidak efektif dan pilihan kata yang digunakan kurang formal. Kurangnya keserasian pada kalimat tersebut karena penggunaan tanda baca yang kurang tepat. Dari segi diksi dalam kaidah sosial kalimat diatas pilihan kata-katanya masih kurang sesuai.








Referensi :
http://www.kompas.com/
http://megapolitan.kompas.com/read/2015/11/13/19434781/Hujan.Bantu.Petugas.Padamkan.Kebakaran.di.Kelapa.Gading
http://malesbanget.com/2014/09/luar-biasa-headline-lampu-hijau-paling-jenius/

 

Rabu, 11 November 2015

DIKSI (PILIHAN KATA) dan KALIMAT EFEKTIF


Jika kita menulis atau berbicara, kita itu selalu menggunakan kata. Kata tersebut dibentuk menjadi kelompok kata, klausa, kalimat, paragraph dan akhirnya sebuah wacana.
Di dalam sebuah karangan, diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-unkapan individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi.

Definisi Diksi
Pilihan kata atau Diksi adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi  atau Plilihan kata mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
   
Fungsi Diksi 
Fungsi Pilihan kata atau Diksi adalah Untuk memperoleh keindahan guna menambah daya ekspresivitas. Maka sebuah kata akan lebih jelas, jika pilihan kata tersebut tepat dan sesuai. Ketepatan pilihan kata bertujuan agar tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis atau pembicara dengan pembaca atau pendengar, sedangkan kesesuaian kata bertujuan agar tidak merusak suasana. Selain itu berfungsi untuk menghaluskan kata dan kalimat agar terasa lebih indah. Dan juga dengan adanya diksi oleh pengarang berfungsi untuk mendukung jalan cerita agar lebih runtut mendeskripsikan tokoh, lebih jelas mendeskripsikan latar waktu, latar tempat, dan latar sosial dalam cerita tersebut.

Manfaat Diksi 
1.     Dapat membedakan secara cermat kata-kata denitatif dan konotatif, bersinonim dan hapir bersinonim, kata-kata yang mirip dalam ejaannya.
2.    Dapat membedakan kata-kata ciptaan sendiri fan juga kata yang mengutip dari orang yang terkenal yang belum diterima dimasyarakat. Sehingga dapat menyebabkan kontroversi dalam masyarakat.
  
Contoh Kalimat Diksi 
  • Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaaan masyarakat 
  • Dia adalah wanita cantik (denotatif) 
  • Dia adalah wanita manis (konotatif)                     
  • APBN RI mengalami kenaikan lima belas persen (kata konkrit) 
  • Kebenaran (kata abstrak) pendapat itu tidak terlalu tampak
Makna sebuah kata / sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
1.     Makna Leksikal :  makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera / makna yg sungguh-sungguh nyata dlm kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).
2.    Makna Gramatikal : untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yg bermakna “sebuah buku,” menjadi buku-buku yang bermakna “banyak buku”.
3.    Makna Referensial dan Nonreferensial : Makna referensial & nonreferensial perbedaannya adalah berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Kata bermakna referensial, kalau mempunyai referen, sedangkan kata bermakna nonreferensial kalau tidak memiliki referen. Contoh: Kata meja dan kursi (bermakna referen). Kata karena dan tetapi (bermakna nonreferensial). 

Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata kurus, bermakna denotatif keadaan tubuhnya yang lebih kecil & ukuran badannya normal.  
Makna konotatif adalah  makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang / kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.









KALIMAT EFEKTIF, CIRI – CIRI, dan CONTOH KALIMAT EFEKTIF

Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Sedangkan dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!). Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah predikat (P). Kalau tidak memiliki kedua unsur tersebut, pernyataan itu bukanlah kalimat melainkan hanya sebuah frasa. Itulah yang membedakan frasa dengan kalimat. Disini, kalimat dibagi menjadi dua, yaitu :
Efektif mengandung pengertian tepat guna, artinya sesuatu akan berguna jika dipakai pada sasaran yang tepat. Pengertian efektif dalam kalimat adalah dan ketepatan penggunaan kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situasi kebahasaan tertentu pula. Beberapa definisi kalimat efektif menurut beberapa ahli bahasa :
1. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu: 2007)
2. Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan:2001)
3. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
4. Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi: 2009)
5. Kalimat efektif di pahami sebagai sebuah kalimat yang dapat membantu menjelaskan sesuatu persoalan secara lebih singkat jelas padat dan mudah di mengerti serta di artikan. (ARIF HP: 2013)
Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kata kunci dari definisi kalimat efektif yaitu sesuai kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami. Jadi, kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Kalimat efektif syarat-syarat sebagai berikut:
1.secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2.mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.

Ciri-Ciri Kalimat Efektif :

1. KESATUAN GAGASAN

Memiliki subyek,predikat, serta unsur-unsur lain ( O/K) yang saling mendukung serta membentuk kesatuan tunggal.
Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.
Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu merupakan keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus dihilangkan).

2. KESEJAJARAN
Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.
Kalimat itu harus diubah :
1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan
2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.

3. KEHEMATAN
Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang berlebih. Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.
Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.
Kalimat yang benar adalah:
Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.

4. PENEKANAN
Kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan.
Caranya:
• Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di depan kalimat.
Contoh :
1. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain
2. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
• Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah.
Contoh :
1. Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
2. Kami pun turut dalam kegiatan itu.
3. Bisakah dia menyelesaikannya?
• Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting.
Contoh :
Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya.
• Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.
Contoh :
1. Anak itu tidak malas, tetapi rajin.
2. Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan menyeluruh.

5. KELOGISAN
Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh :
Waktu dan tempat saya persilakan.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;
Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.

Contoh kalimat efektif :
1. Saran yang di kemukakannya kami akan pertimbangkan ( tidak efektif )
Seharusnya : Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
2. Sejak dari pagi dia bermenung ( tidak efektif )
Seharusnya : Sejak pagi dia bermenung.

          


Sumber :
http://dwiajisapto.blogspot.com/2011/02/diksi-pilihan-kata.html
https://taufikhidayatzein.wordpress.com/2013/11/05/kalimat-efektif-ciri-ciri-dan-contoh-kalimat-efektif/