Rabu, 08 Oktober 2014

PROSES YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI



PROSES YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI













NAMA KELOMPOK:
AGUNG ANDIKA P          (10113334)
DANI ARISANDI               (12113004)
FIRDA FARADIAN           (13113491)
IRVAN AJI PRATAMA      (14113515)
MUHAMMAD IMRON       (15113986)
RAFIATUL ISMI                 (17113127)
TENGKU WARDAH         (18113846)



UNIVERSITAS GUNADARMA
2014/2015




BAB I
PENDAHULUAN


1.1      Latar Belakang
Pengambilan keputusan diperlukan pada semua tahap kegiatan organisasi. Dalam tahap perencanaan diperlukan banyak kegiatan pembuatan keputusan sepanjang proses perencanaan. Dalam pembuatan keputusan mencakup kegiatan identifikasi masalah, perumusan masalah, dan pemilihan alternatif keputusan. Sedangkan dalam tahap pengawasan yang mencakup pemantauan, pemeriksaan, dan penilaian terhadap hasil pelaksaan yang dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan  dari pembuatan keputusan. Dan hasilnya permasalahan yang akan menghambat dapat terselesaikan sehingga suatu organisaasi dapat mencapai tujuan.


1.2      Maksud dan Tujuan
Di balik pengambilan keputusan selalu ada tujuan yang ingin dicapai jika keputusan tersebut dibuat dalam organisasi. Tujuan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu.

1.    Tujuan Tunggal
Maksud dari tujuan tunggal dalam pengambilan keputusan adalah suatu keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah, akan tetapi masalah tersebut tidak ada kaitannya dengan masalah yang lain. Keputusan yang diambil pun harus fokus pada satu titik masalah sehingga tidak keluar dari topik yang dibicarakan.

2.    Tujuan Ganda
Dalam pengambilan keputusan yang bertujuan ganda terjadi apabila dalam sebuah organisasi mengalami masalah yang sangat kompleks sehingga memerlukan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang cerdas melalui pemimpin serta anggotanya. Keputusan yang diambil tidak hanya fokus pada satu masalah akan tetapi keputusan tersebut dibuat untuk menyelesaikan masalah – masalah yang terkait sehingga disebut dengan pengambilan keputusan bertujuan ganda.
 

1.3      Ruang Lingkup
Tulisan ini menjelaskan tentang pengambilan keputusan dalam organisasi, jenis-jenis keputusan dalam organisasi, faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan serta hal-hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. Selain itu juga akan dijelaskan tentang beberapa teori dan tipe pengambilan keputusan.
 



BAB II
PEMBAHASAN

2.1      Definisi
Organisasi adalah sistem saling pengaruh antar orang dalam kelompok yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.

     Sebelum diberikan kepastian tentang pengertian organisasi ada baiknya dikutipkan beberapa pendapat tentang hal itu dari berbagai ahli. Pendapat-pendapat dibawah ini disusun secara kronologis atas dasar tahun pendapat itu dikemukakan.

1.    Chester I Barnard (1938)
Organisasi adalah suatu sistem tentang aktivitas-aktivitas kerjasama dari dua atau lebih sesuatu yang tak berujut dan tak bersifat pribadi, sebagian besar mengenai hal hubungan-hubungan.

2.    James D Mooney (1947)
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk pencapaian suatu tujuan bersama.

3.    Ralp Currier Davis (1951)
Organisasi adalah sesuatu kelompok orang-orang yang sedang bekerja kearah tujuan bersama di bawah kepemimpian.

Pengambilan keputusan  dalam organisasi merupakan hasil proses komunikasi dan partispasi dari organisasi secara keseluruhan dan melibatkan sebanyak-banyaknya pihak yang terkait. Pengambilan keputusan itu didapat dari berbagai alternatif.
Berikut definisi dari beberapa para ahli.

a.    G.R. Terry, pengambilan keputusan dalam organisasi adalah sebagai pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin.

b. P. Siagian, pengambilan keputusan dalam organisiasi merupakam suatu pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, pengumpul fakta dan data.
  

2.2      Tipe-tipe Pembuatan Keputusan
Dalam sebuah organisasi pembuat dan pengambil keputusan biasanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki jabatan tertinggi dan strategis. Pembuat keputusan tersebut memiliki 5 dalam mengambil keputusan, yaitu sebagai berikut,

1.    Pembuat keputusan bertipe ideal
Yaitu pembuat keputusan yang menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki serta tidak melibatkan banyak orang karena ia yakin dengan potensi dirinya untuk memecahkan masalah.

2.   Pembuat keputusan bertipe Receptive (bersedia menerima pendapat)
Yaitu pembuat keputusan yang merasa senang jika anggotanya mengajukan rumusan singkat suatu masalah dan memberikan rekomendasi atas keputusan tersebut.

3.    Pembuat keputusan bertipe Exploitative (pemeras)
Yaitu pembuat keputusan yang menyukai ide – ide baru dan berusaha mendapatkan dari pihak lain dengan cara yang tidak baik.

4.    Pembuat keputusan bertipe Hoarding (penimbun)
Yaitu pembuat keputusan yang berusaha menghimpun dan menyimpan segala sesuatu yang telah dimiliki tanpa bersedia memberikan pada pihak lain.

5.    Pembuat keputusan bertipe Marketing (pemasaran)
Yaitu pembuat keputusan yang mendasarkan pengambilan suatu keputusan dengan berorientasi pada kesempatan yang menguntungkan.


2.3      Asas Pembuatan Keputusan
Tiga asas pembuatan keputusan menurut Louis Allen, yaitu :

1.    Asas Pembatasan
Artinya bahwa keputusan rasional dapat dibuat jika dalam suatu organisasi telah menentukan dan membatasi masalah terlebih dahulu.

2.    Asas Bukti Memadai
Menyatakan bahwa keputusan dapat dinilai sah jika memiliki bukti yang kuat dan memadai.

3.    Asas Identitas
Menyatakan bahwa suatu kuputusan harus didasarkan pada identifikasi fakta secara jelas dan memersatukan pangkal pandangan serta pangkal waktu yang berbeda – beda.

Selain Louis Allen juga terdapat ilmuwan lain yaitu Peter Drueker yang mengemukakan pendapat tentang sesuatu yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan. Menurut Peter Drueker hal tersebut adalah sebagai berikut.

1.    Jangan menganggap keputusan sebagai beban melainkan harus dianggap sebagai kesempatan.

2. Jangan mengharapkan resiko akan habis, sebab tiada keputusan tanpa resiko.

3.  Referensi pengambilan keputusan bisa juga didapatkan melalui dugaan dan ramalan, sehingga tidak selalu bergantung pada fakta.

4.   Membuat alternatif pemilihan dan pengambilan keputusan dalam organisasi.


2.4      Pendekatan Pembuatan Keputusan
Seorang ilmuwan psikologi, sosiologi, dan ilmu politik asal Amerika Serikat bernama Herbert Alexander Simon yang merupakan pelopor pendekatan pembuatan keputusan berpendapat bahwa pokok perilaku organisasi adalah mekanisme pembuatan keputusan dan proses pemecahan masalah manusia. Selain itu, Hebert A. Simon mengemukakan pendapat bahwa proses pembuatan keputusan dapat melalui 4 tahap pendekatan yaitu.

1.  Meneliti lingkungan yang memerlukan keputusan
 
2. Menemukan, mengembangkan, dan menganalisa kemungkinan arah tindakan
 
3.  Memilih arah tindakan tertentu dari alternatif yang ada
 
4. Menilai sesudah memilih (memeriksa dan membuat keputusan)
 
Maka secara ringkas alur proses pembuatan keputusan adalah
Meneliti → Merancang → Memilih → Memeriksa




BAB III
CONTOH KASUS

3.1     Kisruh Pilpres 2014 :
Kisruh Pemilihan Umum 2014 yang disusul gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) oleh kubu Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa dinilai masih belum kelar sebelum ada keputusan MK.

Pakar Hukum dari Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakir mengatakan hasil resmi Pemilu Presiden 2014 ini ada di tangan MK, bukan di tangan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Menurutnya, hasil final Pilpres adalah keputusan MK, karena dalam sistem Pemilu di Indonesia, keputusan KPU itu bisa dibanding atau dikomplain ke MK. "Yang jadi pemenang sebetulnya adalah keputusan MK," ujar Mudzakir saat dihubungi, Rabu (30/7).

Ia mengatakan, calon presiden terpilih oleh KPU Jokowi sebaiknya jangan terlalu gamblang menyatakan dirinya menang kepada seluruh masyarakat Indonesia. Pasalnya, proses MK masih dalam tahap pemeriksaan berkas yang dilaporkan oleh kubu Prabowo. "Menyatakan diri mereka menang seharusnya dilakukan bila masa banding ke MK itu sudah tertutup. Baru itu dinyatakan menang. Mestinya dua kubu harus memberi tahu ke para pendukungnya bahwa keputusan yang sebenarnya itu adalah keputusan MK," tandasnya.

Ia menilai kegiatan tim sukses Jokowi-JK yang membuka partisipasi masyarakat untuk memilih nama-nama yang akan menduduki kursi menteri di kabinetnya nanti dinilai Mudzakir sangat keliru.

"Sekarang malah sudah ramai merekrut kabinet dan sebagainya itu sebenarnya keliru dan tidak boleh dilakukan. Karena dia belum dinyatakan menang oleh MK. Sesuai dengan mekanisme penyelesaian sengketa Pilpres mestinya tim Jokowi-JK wajib memberitahu pendukungnya bahwa keputusan pemilu menang masih bersifat sementara dan finalnya adalah keputusan MK," katanya.

Menurutnya, Jokowi-JK seharusnya bisa mengurangi kisruh antara para pendukung capres dengan mengimbau para konstituennya agar menerima apapun itu hasil keputusan MK.

Termasuk siap menerima kekalahan bila suatu saat MK menyatakan pasangan nomor urut 2 itu kalah. Hal yang sama juga berlaku terhadap tim sukses Prabowo-Hatta.

"Saya kira semua pihak harus memberi penjelasan kepada pendukung dan konstituennya bahwa apapun hasil keputusan Pilpres harus diterima dengan legowo. Terlepas siapa nanti yang diputuskan oleh MK," tandasnya.(Ahmad Sabran).


3.2      Alat Bukti KPU :
Tak hanya alat bukti Prabowo-Hatta yang dinyatakan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) tidak lengkap, tapi juga alat bukti milik KPU. Kuasa hukum KPU Ali Nurdin, menerangkan alat bukti itu sangat banyak diangkut total 21 truk Fuso.

"Beberapa daftar itu saya cek, seperti di Jawa Barat, daftarnya sudah masuk tapi alat buktinya belum sampai. Di basecamp kami juga hampir penuh satu lantai sehingga kalau kita tidak kirim ke sini, tidak akan bisa kerja juga kita. Dan itu jumlahnya memang 21 truk fuso," kata kuasa hukum KPU Ali Nurdin di Gedung MK Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (18/8/2014).

"Truknya bukan truk biasa, truk Fuso. Jadi di satu lantai, lantai 8 (gedung MK) itu penuh bukti termohon (KPU-red)," imbuhnya.

Ali menerangkan, banyaknya alat bukti yang harus diserahkan ke MK sebagai jawaban tudingan Prabowo-Hatta itu, membuat proses pengumpulan ada yang tidak lengkap. Karena hampir semua TPS dibuka kotaknya.

"Memang, kami harus mengecek lagi data TPS yang belum. Bayangkan, ada 478 ribu TPS dalam waktu kurang dari satu minggu, dengan kondisi daerah berbeda-beda. Ada yang di kota yang mudah dijangkau alat transportasi, ada pula yang di daerah terpencil," ujarnya.

"Kemudian persiapan dana juga, baik dana taktis maupun lain-lain. Oleh karean itu, bisa dipahami kalau dalam perkara besar ini termohon dari awal buka kotak suara. Karena sampai saat ini yang dipermasalahkan pemohon kan bukan legalitas buka kotak suara, tapi dianggap merusak bukti," imbuh Ali.

Kendala lain adalah soal persetujuan Panwas di daerah saat pembukaan kotak suara. Ali menerangkan ada Panwas yang tidak setuju dengan alat bukti yang akan diajukan ke MK.

"Ada kabupaten yang panwasnya oke, ada yang tidak. Sehingga pengajuan alat bukti itu bergulir ke Mahkamah Konstitusi," kata Ali.

"Kita akan koordinasikan lagi, kalau hari ini sih seharusnya sudah selesai ya. Karena bukti yang ada di catatan itu ada yang bolong-bolong, sehingga harus kami perbaiki," lanjutnya.


 

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan          :
Dari makalah yang kami buat, dapat kami simpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah suatu tindakan yang perlu dipikirkan dengan matang-matang, tidak secara kebetulan dan tidak boleh sembarangan dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi suatu organisasi. Jadi sebaiknya dalam memecahkan suatu permasalahan dalam suatu organisasi dibutuhkan perlu di musyawarahkan agar tercapai tujuan yang mufakat. Dalam penyelesaian masalah pun dibutuhkan perumusan masalah dengan baik. Kemudian dibuat alternatif-alternatif keputusan masalah yang disertai dengan konsekuensi positif dan negatif. Jika semua hal itu dapat dikemukakan dan dicari secara tepat, masalah tersebut akan lebih mudah untuk diselesaikan.
 

Saran                   :
Sebagai masyarakat Indonesia kita harus menerima dan mendukung hasil keputusan MK. Jangan takut untuk mengeluarkan pendapat kita dan juga kita harus menerima pendapat dan kritikan orang lain. Berdasarkan Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 terdapat lima asas yang merupakan landasan kebebasan bertanggung jawab dan bertindak untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Kelima asas tersebut, yaitu :

1.    Asas keseimbangan antara hak dan kewajiban

2.    Asas musyawarah dan mufakat

3.    Asas kepastian hukum dan keadilan

4.    Asas proporsionalitas

5.    Asas mufakat




DAFTAR PUSTAKA

Drs.Sutarto.1979.Dasar-dasar Organisasi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Simon, Herbert A. (1976). Administrative Behavior: a Study of Decision-Making Processes in Administrative Organization (3rd ed.). New York: Free Press.



 







Nama  : Rafiatul Ismi 
Kelas  : 2KA13
NPM    : 17113127

Kamis, 24 Juli 2014

PRINSIP-PRINSIP MORAL UNTUK MEMBANGUN PRIBADI YANG KUAT


BAB I
PENDAHULUAN


1.1      LATAR BELAKANG

Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah, dan norma yang berlaku berarti dianggap sudah bersikap benar secara moral. Tidak hanya itu, moral juga harus didasari dengan kejujuran karena tanpa kejujuran kita sebagai manusia bisa dianggap belum berani menjadi diri sendiri. Sebelum kita jujur terhadap orang lain terlebih dahulu kita harus bisa jujur terhadap diri sendiri dengan berhenti membohongi diri sendiri. Tanpa kejujuran nilai-nilai moral yang lainnya akan hilang. Jujur berarti harus bersikap terbuka dalam arti kita harus muncul menjadi diri sendiri tanpa adanya kebohongan dalam diri kita. Tidak hanya dengan kejujuran, kita juga harus mempunyai rasa tanggung jawab. Karena dengan adanya rasa tanggung jawab maka akan membangun pribadi yang kuat. Dengan begitu kita bisa mengetahui arti dari kepribadian itu sendiri, Kepribadian adalah menunjuk pada pengaturan sikap-sikap seseorang untuk berbuat, berpikir, dan merasakan, khususnya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan.


1.2      RUMUSAN MASALAH

1.    Apakah yang dimaksud dengan moral?
2.    Apa yang dimaksud dengan kepribadian?
3. Apa saja yang mempengaruhi unsur-unsur kepribadian seseorang?
4. Apa saja faktor-faktor yang membentuk kepribadian seseorang?


1.3      TUJUAN PENULISAN

1.    Untuk menyelesaikan tugas softskill Ilmu Sosial Dasar.
2.    Mengetahui lebih dalam lagi tentang moral.
3. Mengetahui tentang kepribadian dan apa saja faktor-faktor pembentuk kepribadian.
4. Memahami pengertian dari moral dalam membentuk pribadi yang lebih kuat.



BAB II
PEMBAHASAN

Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah, dan norma yang berlaku berarti dianggap sudah bersikap benar secara moral. Moral merupakan pandangan tentang baik buruk, benar salah, apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan. Kepribadian adalah menunjuk pada pengaturan sikap-sikap seseorang untuk berbuat, berpikir, dan merasakan, khususnya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Selain itu juga terdapat unsur-unsur yang mempengaruhi kepribadian seseorang yaitu:

a.    Pengetahuan
Pengetahuan seseorang bersumber dari pola pikir yang rasional, yang berisi pemahaman, dan pengalaman mengenai bermacam-macam hal yang diperolehnya dari lingkungan yang ada di sekitarnya.
b.    Perasaan
Perasaan merupakan suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negatif terhadap sesuatu atau peristiwa tertentu. Perasaan selalu bersifat subjektif, sehingga penilaian seseorang terhadap suatu hal atau kejadian akan berbeda dengan penilaian orang lain
c.    Dorongan Naluri
Dorongan naluri merupakan kemauan yang sudah menjadi naluri setiap manusia. Sedikitnya ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu untuk mempertahankan hidup, seksual, mencari makan, bergaul dan berinteraksi dengan sesama manusia, meniru tingkah laku sesamanya, berbakti, serta keindahan bentuk, warna, suara, dan gerak.

Secara umum, perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu warisan biologis, warisan lingkungan alam, warisan sosial, pengalaman kelompok manusia, dan pengalaman unik.

a.    Warisan Biologis (Heredity)
Warisan biologis memengaruhi kehidupan manusia dan setiap manusia mempunyai warisan biologis yang unik, berbeda dari orang lain. Artinya tidak ada seorang pun di dunia ini yang mempunyai karakteristik fisik yang sama persis dengan orang lain, bahkan anak kembar sekalipun.
b.    Warisan Lingkungan Alam (Natural Environment)
Perbedaan iklim, topografi, dan sumber daya alam menyebabkan manusia harus menyesuaikan diri terhadap alam. Melalui penyesuaian diri itu, dengan sendirinya pola perilaku masyarakat dan kebudayaannyapun dipengaruhi oleh alam
c.    Warisan Sosial (Social Heritage) atau Kebudayaan
Kita tahu bahwa antara manusia, alam, dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling memengaruhi. Manusia berusaha untuk mengubah alam agar sesuai dengan kebudayaannya guna memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya manusia membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian.
d.    Pengalaman Kelompok Manusia (Group Experiences)
Kehidupan manusia dipengaruhi oleh kelompoknya. Kelompok manusia, sadar atau tidak telah memengaruhi anggota-anggotanya, dan para anggotanya menyesuaikan diri terhadap kelompoknya. Setiap kelompok mewariskan pengalaman khas yang tidak diberikan oleh kelompok lain kepada anggotanya, sehingga timbullah kepribadian khas anggota masyarakat tersebut.
e.    Pengalaman Unik ( Unique Experience )
Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda dengan orang lain, walaupun orang itu berasal dari keluarga yang sama, dibesarkan dalam kebudayaan yang sama, serta mempunyai lingkungan fisik yang sama pula.




BAB III
PENUTUP


3.1      KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat harus bersikap jujur dan mempunyai rasa tanggung jawab. Dan unsur-unsur yang mempengaruhi kepribadian seseorang itu berupa pengetahuan, perasaan, dan dorongan naluri. Selain itu seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat harus mempunyai prinsip yaitu bersikap kritis, bersikap terbuka, jujur dan rasional.



REFERENSI

http://www.slideshare.net/Shobrie/membangun-karakter-nilainilai-moral (diunduh pada tanggal 16/07/2014, pukul : 12.29)
Achmad Alfin’s Blog. “Pembentukan Kepribadian”. http://alfinnitihardjo.ohlog.com/pembentukan-kepribadian.oh112680.html (diunduh tanggal 16 Juni 2014 Pukul : 11.55)
Bertens K, 1993. Etika. Jakarta : Gramedia Pusaka Utama




Nama : Rafiatul Ismi
Kelas : 1KA07
NPM : 17113127

MENGHAYATI PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BERBANGSA dan BERNEGARA

BAB I
PENDAHULUAN


1.1      LATAR BELAKANG

Pandangan hidup adalah sesuatu yang kita lihat dan kita jalankan. Pandangan hidup itu sangat luas, salah satunya yang paling utama adalah Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Pancasila merupakan dasar negara bangsa indonesia yang harus kita junjung tinggi sebab tanpa adanya pancasila bangsa ini tidak akan bisa berdiri dengan kuat dan tidak akan bisa mewujudkan suatu tujuan negara yang ingin kita capai. Saat ini banyak dari kita yang tidak memperdulikan atau bahkan lupa dengan apa yang menjadi dasar dan pandangan hidup bangsa kita ini, mereka lupa bahkan tidak sadar dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, yang sesungguhnya memiliki arti yang mendalam dan seharusnya kita hormati, hargai dan kita cintai. Pancasila yang telah ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa, sehingga tak ada yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia.


1.2      RUMUSAN MASALAH

1.    Apakah pengertian dari pandangan hidup?
2.    Apakah fungsi pancasila sebagai pandangan hidup?
3.    Bagaimana upaya menjaga nilai-nilai pancasila?

1.3      TUJUAN PENULISAN

1.    Untuk menyelesaikan tugas softskill Ilmu Sosial Dasar.
2.  Mengetahui lebih dalam lagi tentang pandangan hidup suatu bangsa.
3.    Mengetahui upaya menjaga nilai-nilai pancasila.
4. Memahami pengertian dari pancasila dan bagaimana menerapkan pancasila tersebut dalam kehidupan sehari-hari.



BAB II
PEMBAHASAN

Pandangan hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, yang dipilih oleh setiap pribadi dan golongan setiap masyarakat. Menurut Pahmo Wadjono : “Pandangan hidup adalah sebagai suatu prinsip atau asas yang mendasari segala jawaban terhadap pertanyaan dasar, untuk apa seseorang hidup”. Pandangan hidup terdiri dari cita-cita, kebijakan dan sikap hidup. Dalam menghadapi berbagai macam masalah, setiap manusia selalu berpegang pada sikap dan pandangan hidupnya. Setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup yang berbeda-beda. Pandangan hidup mencerminkan sikap diri seseorang karena pandangan hidup itu mempunyai arti sebagai cerminan cita-cita atau aspirasi seseorang. 

Pandangan hidup itu sangat luas, salah satunya yang paling utama adalah Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Pancasila mempunyai fungsi sebagai acuan untuk menata hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesamanya dan dengan Tuhannya. Pandangan hidup suatu bangsa harus mempunyai nilai yang menumbuhkan suatu tekad untuk mewujudkan suatu cita-cita bangsa yang ingin dicapai. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan cita-cita moral bangsa yang memberikan pedoman bagi bangsa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sebagai warga negara indonesia kita harus menghayati Pancasila, karena dengan kita menghayati dan mengamalkan pancasila tujuan bangsa akan tercapai, tetapi saat ini hanya sebagian warga negara Indonesia yang mengamalkan dan menghayatinya, sehingga bangsa kita ini tidak mengalami perubahan sehingga kita tertinggal sangat jauh dengan bangsa bangsa lain. Banyak sekali persoalan di Negara ini, tidak sulit untuk memecahkannya jika kita kembali lagi kepada pancasila, tetapi saat ini banyak masalah yang hadir yang justru membuat kita berpandangan lain atau bahkan tidak sejalan. Hal tersebut bisa terjadi karena kurangnya pandangan hidup kita dengan pancasila. Kekokohan dan tujuan, setiap bangsa yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui jelas kearah mana tujuan yang ingin dicapai memerlukan pandangan hidup. Pemecahan masalah, dengan pandangan hidup suatu bangsa akan memandang persoalan yang dihadapi dan menentukan cara bagaimana memecahkan persoalan. Pembangunan diri,  dengan pandangan hidup suatu bangsa akan memiliki pegangan dan pedoman bagaiman memecahkan masalah politik, ekonomi, social dan budaya dalam gerak masyarakat yang makin maju dan akan membangun dirinya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila merupakan suatu cerminan dari kehidupan masyarakat Indonesia (nenek moyang kita) dan secara tetap telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia. Untuk itu kita sebagai generasi penerus bangsa harus mampu menjaga nilai-nilai tersebut. Untuk dapat hal tersebut maka perlu adanya berbagai upaya yang didukung oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Upaya-upaya tersebut antara lain :

1. Melalui dunia pendidikan, dengan menambahkan mata pelajaran khusus pancasila pada setiap satuan pendidikan bahkan sampai ke perguruan tinggi.
2.    Lebih memasyarakatkan pancasila.
3.    Menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
4. Memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang melakukan pelanggaran terhadap pancasila.
5. Menolak dengan tegas paham-paham yang bertentangan dengan pancasila.




BAB III
PENUTUP

3.1      KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan negara Indonesia. Pancasila merupakan dasar negara bangsa Indonesia yang harus kita junjung tinggi, selain itu pancasila juga sebagai pedoman hidup suatu bangsa harus mempunyai nilai yang menumbuhkan suatu tekad untuk mewujudkan suatu cita-cita bangsa dan  menjadikan bangsa yang lebih baik lagi serta bisa mencapai tujuan yang ingin dicapai. Kita sebagai warga negara Indonesia harus menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dari pancasila tersebut agar bangsa kita ini tidak tertinggal oleh negara lain.






REFERENSI

Amaludin Nasution’s Blog.”Upaya Menjaga Nilai Luhur Pancasila”. http://amaluddinnasution.blogspot.com/2013/04/upaya-menjaga-nilai-luhur-pancasila.html (diunduh pada tanggal 16 Juni 2014 pukul 12:00)
Usiono, 2007. Pancasila Membangun karakter Bangsa. Medan : Hijri Pustaka Utama







Nama : Rafiatul Ismi
Kelas : 1KA07
NPM : 17113127